Menengok kembali Suaka Margasatwa Muara Angke

Pertama menginjakkan kaki kembali di Suaka Margasatwa Muara Angke, disambut dengan papan nama besar di atas gerbangnya bertuliskan “SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE, 12 JALUR DESTINASI WISATA PESISIR”.

Pemprov DKI menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tujuan wisata pesisir selain Sentra Perikanan Muara Angke, Kawasan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang, Sentra Belanja Mangga Dua, Taman Impian Jaya Ancol, Bahtera Jaya Ancol, Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Islamic Centre, Kampung Tugu, Kampung Marunda, dan Sentra Belanja Kelapa Gading (http://travel.detik.com/read/2012/05/10/091704/1913653/1025/12-destinasi-wisata-pesisir-sisi-lain-keindahan-jakarta-utara).

Melewati gerbang pertama kita berada di sebuah plaza yang cukup untuk tempat beraktivitas bagi sekitar tiga puluh orang. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah bangunan yang sepertinya baru dan difungsikan sebagai loket masuk.

IMG-20160713-WA0018.jpg

Memasuki kawasan yang dulunya berstatus Cagar Alam ini kita disuguhi suasana lain yang membuat seperti tidak berada di Jakarta, dengan kerindangan pepohonan mangrove yang didominasi oleh jenis Pidada serta sambutan keriuhan kicauan kipasan belang, remetuk laut, Cipoh kacat dan Merbah cerukcuk. Kita akan lihat pasak-pasak tajam yang muncul dari dalam tanah yang merupakan akar nafas jenis tumbuhan mangrove yang hidup disana.

Sangat disayangkan dua buah bangunan yang berada tidak jauh dari jalan masuk tampak rusak, karena terendam air pasang dari kali Angke yang berada disisi kawasan yang membawa lumpur. Gedung yang dimanfaatkan sebagai aula Nampak sudah tergenang air di dalamnya dan sedimen lumpur di luar bangunan terlihat lebih tinggi dari bangunan.

IMG-20160713-WA0020.jpg

Masuk ke daerah yang lebih dalam lagi, setelah melewati hutan pidada dan nipah, kita akan menjumpai danau yang cukup luas. Kebetulan kondisinya terbuka dan sedang tidak tertutupi oleh eceng gondok yang jika kita datang pada waktu yang tepat maka kita akan lihat seluruh luasan danau tertutupi oleh eceng gondok. Di sana kita akan melihat dikejauhan Cangak abu dan Pecuk Ular bertengger di pohon dengan membentangkan sayapnya. Kita juga dapat melihat dengan leluasa Punai gading atau Pecuk Padi Kecil terbang melintas.

IMG-20160713-WA0021.jpg

Sangat disayangkan fasilitas jalan papan yang dibangun pada tahun 2007 hampir separuhnya rusak parah dan tidak dapat dilewati lagi membuat pengunjung tidak dapat menikmati variasi pemandangan di dalam kawasan hingga ujung jalan papan (Edy Sutrisno – TRASHI).

Buka Bersama Warga Rusun Cipinang Pulo

Ketika Trashi tiba, bu Isah, Ketua RT di lingkungan Rumah Susun Cipinang Pulo tengah sibuk menggoreng tahu isi yang disiapkan untuk berbuka puasa hari ini. Saat Trashi datang saat waktu masih menunjukkan pukul empat sore. Sembari berbicara ringan mengenai buka puasa dan kegiatan penghijauan di Rusun Cipinang Pulo, Trashi membantu kegiatan menggoreng dan persiapan lainnya.

WhatsApp-Image-20160705

Waktu sudah pukul setengah enam sore, saat beberapa bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak di Rusun Cipinang Pulo sudah berkumpul di aula yang berada di tengah rusun. Dengan dipimpin imam mushola Rusun, warga yang hadir mengawali dengan do’a terlebih dahulu sesaat sebelum adzan magrib berkumandang tanda berbuka puasa bagi yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini.

Tidak berapa lama tumpukan lontong, gorengan tahu isi dan kolak yang telah dipersiapkan oleh bu Isah bersama beberapa ibu yang berdekatan telah berpindah ke perut para warga yang hadir tidak ketinggalan es dan teh panas sebagai menu awal. Keriuhan anak-anak rebutan makanan berbuka puasa terkadang diselingi suara ibu-ibu yang mengingatkan mereka agar tertib. Selepas sholat Magrib berjamaah dilanjutkan dengan menyantap menu utama yaitu nasi ulam yang dibawa oleh Trashi.

WhatsApp-Image-20160705 (1)

Kegiatan berbuka puasa dengan warga Rusun Cipinang Pulo ini merupakan ide dari Trashi yang disambut baik oleh bu Isah, yang menyiapkan menu buka puasa sejak siang hari bersama ibu-ibu yang lain. Walaupun diadakan dengan sederhana, namun melihat keriaan dan hadirnya warga dalam acara berbuka puasa tersebut memberikan nuansa keberkahan Ramadhan (Edy Sutrisno – TRASHI).

 

Berkebun minimalis

“Pembibitan yang kita buat gagal lagi bu”, ujar bu Isah ketua RT Rusun Cipinang Pulo sesaat begitu Transformasi Hijau datang pada Senin sore dan bertanya mengenai pembibitan yang dilakukan. “Itu, habis sama tikus, gak tahu deh gimana nyeleseinnya”, lanjut bu Isah lugas.

Berkebun minimalis

Sejak November 2015, TRASHI, HSBC, dan Terminal Benih bersama dengan warga rumah susun yang teletak di belakang Lembaga Pemasyarakatan Cipinang ini melakukan kegiatan bercocok tanam memanfaatkan lahan yang masih tersisa di dalam wilayah rumah susun. Bunga Telang, bayam, terung, kemangi merupakan beberapa jenis tanaman yang ditanam disana.

Sebagai salah satu kegiatan bertanam tersebut adalah mencoba membuat pembibitan. Ini adalah upaya kedua dalam membuat pembibitan, dan masih belum berujung pada keberhasilan.

Penanaman ini berkonsep minimalis, dengan memanfaatkan lahan di tengah rusun berukuran 2×5 m. Meskipun demikian, sedikit banyak telah dimanfaatkan oleh warga rusun, dibuktikan dengan bunga telang yang tidak pernah terkumpul karena selalu diminta oleh ibu-ibu rusun untuk diolah sendiri menjadi bahan minuman (Edy Sutrisno – TRASHI).

Dari Cacing Hingga Styrofoam: Serunya Sharp Greenerator Berpetualang di Kampung Sarongge

Menyiram pestisida alami
Menyiram pestisida alami

Kampung Sarongge, 10 Maret 2016 – “Ayoo.. 3 menit lagi selesai!” teriak kak Ucup, salah satu kakak volunteer TRASHI. “Sebentar kak, tambah 10 menit lagi yaah..” jawab sekumpulan anak-anak tak kalah lantangnya, kompak.

Anak-anak itu ternyata tak mau beranjak dan masih asyik menumbuk dedaunan, sedangkan yang lain sedang asyik menanam sayuran.

Suasana yang seru itu terlihat pada kegiatan Sharp Greenerator: Organik dan Mata rantai pengelolaan Sampah, yang diselenggarakan oleh Transformasi Hijau dan didukung oleh PT SHARP Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal sistem pertanian organik, mengenal manfaat dan pentingnya sistem pertanian organik, membedakan sistem pertanian organik dan konvensional, mengenal bahaya Styrofoam dan membuat pengelolaan sampah mandiri.

Sebanyak 18 siswa dan 4 guru yang berasal dari 3 sekolah – yaitu SMA Plus YPHB Bogor, SMAN 4 Cibinong, dan SMPN 13 bogor – mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kabupaten Cianjur.

Kampung Sarongge merupakan sebuah kampung ekowisata yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango. Di kampung ini terdapat pertanian sayur organik yang dikelola oleh kelompok petani muda.

Difasilitasi langsung oleh 3 orang petani muda dan 2 orang fasilitator dari UNAS, peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk belajar mengenai 4 hal yang menarik, yaitu: Membuat pupuk cacing dan pestisida alami, Praktek menjadi petani, Cerita dari Kebun Sarongge, dan Belajar menguji kualitas tanah.

Menumbuk ramuan pestisida alami
Menumbuk ramuan pestisida alami
Belajar berkebun organik
Belajar berkebun organik
Belajar tentang kualitas tanah
Belajar tentang kualitas tanah

Selain itu, peserta didorong untuk membuat perencanaan pengelolaan sampah mandiri dan menghindari penggunaan kemasan Styrofoam.

Tentang Sharp Greenerator

Sharp Greenerator merupakan komunitas pelajar dan anak muda cinta lingkungan yang dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda mengenai pentingnya pelestarian lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati.

Program komunitas ini diinisiasi oleh PT Sharp Indonesia dengan didukung oleh beberapa lembaga, yaitu Pusat Konservasi Tumbuhan – Kebun Raya Bogor ( LIPI ), Transformasi Hijau, WWF Indonesia, Yayasan BOS, dan Yayasan TERANGI.

Selamat Hari Air Sedunia, 22 Maret 2016

Hari ini adalah Hari Air Sedunia!

Hari Air Sedunia 2016
Hari Air Sedunia 2016

Tema Hari Air Sedunia 2016: Air dan Pekerjaan | Koordinasi UN-Water bersama dengan ILO (International Labour Organization)

Tema ini diangkat sebagai tema Hari Air Sedunia 2016, karena hampir setengah dari pekerja di dunia (1,5 miliar orang) bekerja di sektor yang terkait dengan air bahkan bisa dikatakan hampir semua pekerjaan tergantung pada air. Namun faktanya, jutaan orang yang bekerja tersebut tidak terpenuhi hak-haknya dengan baik.

Oleh karena itu, Hari Air Sedunia tahun ini memfokuskan pada kualitas dan kuantitas air yang akan dapat mengubah kehidupan dan mata pencaharian buruh. Bahkan mampu mempengaruhi masyarakat dan perekonomian dunia. Padahal pada tahun 2050, diprediksi populasi penduduk bumi akan meningkat hingga 35%.

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai keterkaitan antara Air dan Pekerjaan, kunjungi website menarik ini:

http://www.waterandjobs.org/

Sekilas tentang Hari Air Sedunia

Hari Air Sedunia atau World Water Day merupakan salah satu hari peringatan lingkungan hidup tingkat internasional. Tujuannya sebagai kampanye akan peran penting air bagi kehidupan serta mengajak masyarakat dunia untuk turut serta melindungi pengelolaan sumber daya air.

Hari Air Sedunia dicetuskan kali pertama saat digelar United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Pada sidang yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 1992 tersebut, disepakati untuk menyelenggarakan peringatan Hari Air Sedunia yang akan digelar pertama kali pada 22 Maret 1993. Sejak itu World Water Day diperingati setiap tahun.

Sumber:
http://www.unwater.org/worldwaterday/
http://alamendah.org/2016/03/17/tema-dan-logo-hari-air-sedunia-2016/

Tagar:
#worldwaterday #betterwaterbetterjobs #hariairsedunia