SUDAH BERBEDA SEJAK KECEBONG

Bertempat di lantai 3 gedung riset multidisiplin UI yang berada di dalam kompleks kampus FMIPA UI Depok sekitar pukul setengah empat sore kemarin dimulai lah kegiatan Frogs Talk kerjasama RCCC UI dengan Kelompok Studi Hidupan Liar “Comata”. Pemateri kali ini adalah seorang mahasiswa post doctoral dari Universitas Hamburg yang telah melakukan penelitian Panjang mengenai taksonomi katak. Ada dua materi yang disampaikan, yaitu tentang Keanekaragaman jenis Katak di Indonesia serta metode standar untuk melakukan survey ampibi dan materi tentang gastronomyphorous pada kecebong sebagai salah satu alat pengklasifikasian taksonomi katak.

Presentasi dalam Frogs Talk

Pemateri yang bernama lengkap Umilaela Arifin ini pada sesi pertama memaparkan mengenai keanekargaman jenis amfibi di dunia termasuk di Indonesia sebagai salah satu hotspot jenis endemic dunia. Dipaparkan tentang manfaat survey lapangan yang sangat besar berkontribusi dalam memberikan data dan informasi mengenai jenis baru, seperti yang dicontohkan pada amfibi, dimana pada tahun 1923 hanya teridentifikasi sebanyak 61 jenis dan hingga 2018 teridentifikasi sebanyak 104 jenis. Itu hanya untuk jenis amfibi yang terdapat di pulau Sumatera. Dijelaskan untuk penelitian lapangan untuk mengetahui jenis dan populasi amfibi dapat dilakukan dengan beragam metode yang sudah ada diantaranya adalah opportunistic survey, visual encounter survey, transec sampling, quadrat sampling, patch sampling, drift fences and pitfall traps serta canopy access. Metode tersebut dipergunakan menyesuaikan lokasi, tujuan dan ketersediaan sumberdaya tentu saja.

Temukan perbedaan ketiga jenis katak ini

Pada sesi kedua materi yang disampaikan tidak kalah menarik, yaitu mengenai salah satu bagian tubuh dari katak yang hidup di sekitar sungai beraliran air deras. Untuk hidup dilokasi seperti itu, sebelum menjadi katak, yaitu dalam bentuk kecebong jenis-jenis tersebut beradaptasi dengan memiliki bagian perut seperti penghisap atau dikenal dengan gastronomyphorous. Untuk berpindah mereka menggunakan mulutnya untuk merayap diantara aliran arus deras. Disampaikan ini merupakan bahan penelitian doctoral Umilaela. Penelitiannya dilakukan di sepanjang pulau Sumatera dan sebagian Jawa. Dari penelitian tersebut, Umi menyimpulkan bahwa terdapat 3 jenis Sumaterana dari yang awalnya hanya diidentifikasi sebagai Sumaterana crassiovis, terdapat dua jenis baru yaitu Sumaterana dabulescens dan Sumaterana montana. Perbedaan tersebut diidentifikasi dari variasi webbing, warna iris mata, corak paha dan bantalan kawin selain tentu saja dari perbedaan molekulernya.

Inilah sang kecebong

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *