Coding untuk mengatasi perdagangan satwaliar

Pernah melihat film Wall-E atau I, Robot atau Ex machina atau Chappie, itu semua sebagian film-film yang bercerita mengenai kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan atau dengan istilah kerennya adalah Artificial Intelligent sebagaimana yang dikutip dalam laman Wikipedia diartikan sebagai kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel dimana kecerdasan tersebut ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah.
Saat ini teknologi yang diciptakan oleh manusia sudah mulai mencapai kearah sana, dimana mesin-mesin dibuat tidak sekedar untuk melakukan sesuai petunjuk tapi juga untuk berfikir. Kecerdasan buatan ini pula yang membawa satu kelompok anak muda Indonesia memenangkan kompetisi yang didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat yang menjadikan teknologi sebagai solusi dan peningkatan kesadaran melawan perdagangan satwa langka di dunia yang dikenal dengan nama Zoohackton (http://zoohackathon.com/).
Perangkat lunak yang diberi nama Pangolin tersebut Pemenang dari perlombaan yang diikuti 17 tim dengan 85 peserta dengan hadiah utama 2.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp6,8 juta. Pangolin bekerja dengan mengekstrak informasi kunci dari artikel berita untuk membantu mengidentifikasi jalur dan pola kejahatan perdagangan satwa ilegal.
Cara kerja Pangolin dan proses kompetisi zoohackton tersebut disampaikan di @america pada Jumat, 22 November 2019 dalam presentasi yang berjudul “Coding to End Wildlife Traficcing” dengan menghadirkan ketua timnya, yaitu Lintang Sutawika. Jadi, siapa yang tertarik untuk menjadi tim Pangolin selanjutnya??.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *