Kemping di Ciliwung

Rungkun Awi, 28/09/2018, berjajar tenda menandakan bahwa area tersebut menjadi lokasi menginap para peserta kemping di ciliwung selama 2 hari 1 malam. Warna-warni tenda menambah semarak hijau rumpun bambu yang tumbuh dan hidup disana.

Rombongan demi rombongan berdatangan. Tiap peserta yang ikut dalam acara tersebut menggelar tenda miliknya masing-masing. Selesai mendirikan tenda, para peserta kemping di ciliwung saling memperkenalkan diri dan tampak asik membicarakan hal seru.

Rungkun awi merupakan salah satu wilayah konservasi bambu yang terdapat di daerah ciliwung hulu segmen 1 atau tepatnya berada di bantaran sungai cisampay. Salah satu satu anak sungai yang airnya mengaliri sungai ciliwung.

Keberadaan rungkun awi kalah pamor oleh bangunan-bangunan villa yang megah. Posisinya yang berada di lembah Cisampay jelas kalah mentereng dari ribuan villa yang berada di puncak. Namun, rungkun awi memiliki fungsi lebih baik dari ribuan villa megah di puncak.

Kang Tedja selaku pendiri komunitas rungkun awi menyatakan bahwa area yang kita gunakan sekarang sebagai lokasi kemping adalah areal yang keberadaan dalam kondisi terancam beralih fungsi.

Bambu yang tumbuh diareal tersebut¬† secara ekosistem memiliki arti penting. “Rumpun bambu yang tumbuh di aeral tersebut dapat menyerap air hujan dan mengalirkannya kembali sebagai air bersih melalui mata air ini”, tunjuk kang tedja.

Badan sungai dipenuhi batuan kali, airnya mengalir dengan jernih. Saat siang hari, kita bisa mengamati serangga air, capung jarum dan makhluk lainnya yang dapat dijadikan patokan (bio-indikator) bahwa aliran sungai cisampay memiliki kualitas yang sangat baik.

Saat gelap hinggap di rungkun awi, badan sungai Cisampay adalah lokasi yang ideal untuk ngepet atau herpetofauana.

Jika kita mengamati dengan baik, badan sungai ini seperti apartemen mewah bagi makhluk-makluk herpetofauna, Setiap lantai di badan sungai ini memiliki penghuni masing-masing. Terang seken kepada para peserta herpetofauna.

Puas menyusuri sungai dan herpetofauna, nyala api (api unggun) ditemani singkong goreng, singkong rebus, pisang rebus serta pisang bakar adalah hal wajib yang tidak boleh dilewatkan sebelum beristirahat dan menyudahi hari ini.

Fajar menyapa, cahaya matahari mulai masuk ke dalam tenda dan menandakan pagi telah datang. Satu persatu setiap peserta bergegas mandi dan sarapan.

Kuy, truk yang akan kita gunakan untuk menuju lokasi penanaman telah tiba. Setiap peserta kemping wajib membawa pohon yang telah disediakan untuk di tanam. Terang ichay kepada peserta penanaman pohon pada acara kemping di ciliwung.

Putaran roda truk selama 40 menit membawa kami menuju lokasi penanaman pohon. Namun sebelum tiba di lokasi penanaman, kami disuguhi pemandangan hijaunya kebun teh. Di salah satu spot, kami melihat elang Bido yang sedang beristirahat di ranting pohon. Elang itu tampaknya mengamati kami yang menggunakan truk sebagai armada kami siang itu.

Warga yang kami temui di sepanjang perjalanan menuju lokasi menyiratkan bahwa sepertinya mereka merindukan masa-masa menggunakan truk sebagai angkutan. Pada masa jayanya perkebunan teh gunung mas, setiap hari para pemetik teh menggunakan truk sebagai armada transportasi. Kini, dari ratusan bahkan ribuan hektar kebun teh di puncak banyak yang telah beralih fungsi menjadi villa dikarenakan perkebunan tersebut sudah tidak produktif lagi.

Jalan terjal berbatu, menyebabkan badan kami sering berguncang. Sesekali kendaraan kami harus mengalah dan memberi jalan kepada para pelancong yang menggunakan mobil pribadi. Jalan tanah dengan batuan yang kadang terlepas jelas menjadi medan yang berat bagi kendaraan kecil.

Saat tiba di tikungan imah nini, supir menghentikan laju mobil. Menurunkan badan kami, bibit pohon, pupuk dan kebutuhan penunjang kegiatan penanaman pohon.

Kami segera memilih lubang yang akan kami tanami.

Kawat berduri menjadi batas wilayah kami. Ini adalah batas yang dipasang oleh Taman Safari. Jika kita menyeberangi kawat ini, kita sudah masuk ke dalam kawasan taman safari.


Pohon kopi, jeruk, aren, alpukat, bambu yang sebelumnya berada dalam polybag akan mendapatkan tempat baru untuk tumbuh dan berbuah.

Saat kami sedang menanam, kami mendengar auman singa di kejauhan. Kami sempat menghentikan sejenak aktivitas penanaman. Lalu seorang peserta berkata, biasanya, jika suara aumannya jauh, maka singanya dekat. Dan jika aumannya dekat, maka singanya jauh. Sejurus kemudian auman singa tersebut tenggelam dikalahkan suara tertawa kami yang menggapa itu hoax. Ah itu mah hoax, bro. singa pastinya menjauh karna disini ada trinil. Ucap Kirby, salah satu peserta kemping di ciliwung. Humus dan Batang-demi batang bibit pohon kami masukan ke dalam lubang yang telah disiapkan untuk menanam. Ratusan pohon yang disiapkan telah menempati rumah barunya di dekat imah nini. Imah nini yang sebelumya cocok menjadi lokasi uka-uka, kini telah bersolek menjadi lokasi tempat tumbuh dan berbuah beberapa jenis pohon yang kami tanam tadi.

Dua hari berkegiatan di Hulu Ciliwung ini memberikan pembelajaran besar bagi Trashi dan relawan yang terlibat bahwa Ciliwung tidak hanya dapat dipelihara oleh satu pihak saja, tapi perlu banyak pihak yang terus bahu membahu dengan saling mengingatkan dan memberi contoh. Keterlibatan dunia usaha seperti Danareksa menjadi bagian penting dalam proses tersebut. (Fadhel Achmad)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *