DSCN5198
Penjelasan sebelum beraktivitas

“Untuk membedakan siput air tawar dan siput air laut dapat dengan melihat arah putaran cangkangnya, untuk arah putaran ke kanan itu disebut dekstral untuk yang hidup di air asin dan untuk arah putaran ke kiri disebut sinistral untuk yang hidup di air tawar,” demikian penjelasan mbak Nina, seorang peneliti moluska saat memberikan penjelasan kepada peserta kegiatan penanaman mangrove di Pulau Rambut.

Penjelasan mengenai moluska bagi peserta kegiatan penanaman mangrove
Penjelasan mengenai moluska bagi peserta kegiatan penanaman mangrove

Interpretasi  mengenai moluska di Pulau Rambut adalah salah satu bagian kegiatan penanaman yang dilaksanakan oleh Transformasi Hijau bersama divisi PKBL PT. Danareksa TBk.  Disamping itu peserta juga dibekali dengan informasi mengenai biodiversitas lainnya yang ada di daerah yang telah dideklarasikan sebagai daerah ramsar pada tahun 2011 tersebut.

Bluwok muda yang sedang beristirahat setelah lelah berlatih terbang

Pulau Rambut merupakan lokasi Ramsar keenam yang dimiliki oleh Indonesia setelah Taman Nasional Wasur, Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan Taman Nasional Sembilang dari total 160 daerah Ramsar di dunia.

DSC_0024_3[1]
Waktunya bermain lumpur…..
Penanaman mangrove di Pulau Rambut dilakukan secara periodik sejak tahun 2008 oleh Transformasi Hijau bersama divisi PKBL PT. Danareksa TBk. untuk mendukung upaya penyelamatan habitat burung di pantai utara Jakarta ini.  Dari hasil pengamatan terakhir hasil penanaman 2008 sudah setinggi kurang lebih 2 meter.

Kegiatan Sabtu, 23 Mei 2015 tersebut diikuti oleh sekitar 30an orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan PT. Danareksa, pelajar, mahasiswa dan penggiat lingkungan.  Sebagai pengantar, sebelum memulai kegiatan, para peserta diperkenalkan dengan ekosistem Pulau Rambut oleh pak Warsa Jaya dari BKSDA dan pak Buang, anggota masyarakat yang tinggal di Pulau Untung Jawa.  Setelah menikmati panorama pualu Rambut dari menara pengamatan yang terletak di tengah pulau, para peserta bergerak melakukan penanaman sekitar 2000 bibit bakau.

DSC_0033_2[1]
Tumpukan sampah non organik di sepanjang pantai

Pekerjaan Rumah yang sangat besar bagi penyelamatan tempat berkembang biak Burung Bluwok ini adalah mengurangi jumlah sampah non organik yang masuk ke dalam pulau yang mengganggu pertumbuhan jenis tumbuhan mangrove dan darat.

DSC_0027_2[1]
Semoga tumbuh dan berkembang

 

[FAG id=593]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *