Para peserta JBW V (foto: Desi Ayu Triana)
Jakarta (7/9), kembali ruang terbuka hijau menjadi incaran para kelompok pengamat burung, pegiat konservasi, fotografer, juga kalangan umum Jakarta dan sekitarnya yang ingin mengisi luang waktunya dengan pembelajaran alam. Kelima kalinya Jakarta Bird Walk ini berlangsung di pedalaman Lebak Bulus-Cinere, perjalanan panjang mencari plang penanda arah yang tak kunjung tampak, dan usaha tak kenal putus membuahkan hasil, tujuan yang dicari dapat ditemukan: Hutan Kota Pesanggrahan. Ternyata bukan sekedar bertittle hutan kota, nama lengkapnya Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana Karang Tengah. 
Disambut monumen unik yang entah apa arti dari tonggak-tonggak berwujud kayu dengan bola dunia di pusat lingkaran tonggak, cukup membuat tak yakin ini adalah hutan kota. Sangat berbeda dengan hutan kota Srengseng kali lalu itu, di sini, HK Pesanggrahan memiliki pendopo-pendopo corak Betawi dan kandang ternak (ayam, kelinci, kambing, kuda, dan ikan), serta yang paling menarik adalah: alat super besar dari beton dan logam berada di gunungan sampah yang diratakan. Setelah ditanyakan pada Babeh Idin, tetuah di sana yang tak asing bagi pengamat telivisi, ternyata alat itu adalah alat pembakaran sampah agar sampah limbah dari kali pesanggrahan yang dikumpulkan tidak merusak ekosistem. Alat pembakaran itu merupakan karya anak bangsa, salah satu mahasiswa suatu sekolah tinggi yang mengabdi di RTH ini. 
Tentang Babeh tersebut, teman-teman pengamat memberitahukan bahwa beliau adalah orang aseli Jakarta yang sering muncul di program TV yang berhubungan dengan budaya Jakarta. Sempat mengobrol, ternyata beliau sangat tidak suka disebut orang Betawi. Baginya, Betawi bukanlah penduduk aseli Jakarta, Betawi adalah keturunan Cina dan atau Arab. Sedangkan beliau yang aseli pribumi Jakarta, akan sangat senang diakui sebagai orang Jayakarta yakni aseli kelahiran Sunda Kelapa yang kini bernama Jakarta. Miris mendengar cerita Babeh yang meskipun dalam nada tinggi khas orang tua kesal, tapi wajar amarah itu ada, seorang tua yang dari muda hingga umurnya sekarang 60 tahun telaten membersihkan sampah-sampah yang mengotori kali Bogor-Jakarta, kali Pesanggrahan meski tak ada yang membayarnya.
Uniknya, dalam gunungan sampah yang membuat kami terperangah itu, burung-burung pun masih mau bermain di sana. 1) Burung gereja eurasia (Passer montanus), 2) kutilang (Pycnonotus aurigaster), 3) tekukur biasa(Streptopelia chinensis), 4) walet linchi (Collocalia linchi), dan 5) layang-layang batu (Hirundo tahitica) hilir mudik di atas gunungan dan sisi-sisinya. Selain gunungan sampah yang hendak diolah tersebut, RTH ini memiliki beberapa wujud habitat burung. Ada habitat ladang yang berisi pohon-pohon singkong, tebu, dan pisang. Di batang-batang singkong yang rendah dapat kami temui burung 6) bondol peking (Lonchura punctulata) bertengger setelah mendapat biji-bijian rumput liar di sekitarnya, di daun pisang teramati 2-3 ekor H. tahitica yang terbang-bertengger-terbang-bertengger berkali-kali di daun yang sama, juga suara berisik 7) perenjak jawa (Prinia familiaris) terdengar dari arah batang-batang tebu. Habitat bantaran kali pun ada dengan kali pesanggrahan, yang menjadi spot beberapa masyarakat untuk memancing di luar pemancingan yang sudah disediakan dan biawak mencari makan, yang mengalir di tengahnya. Habitat bantaran ini dipenuhi dengan suara 8) cinenen pisang (Orthotomus sutorius) dan ketika diamati, burung kecil dan bawel ini berlompat-lompatan di antara ranting di pepohanan bantaran kali bercampur dengan 9) burung madu kelapa (Anthreptes malacensis) dan 10) burung madu sriganti (Cinnyris jugularis). Selain cinenen pisang dan kedua burung madu itu, sering kali juga terdengar suara 11) cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris) dan 12) raja udang biru (Alcedo coerulescens) di sekitar bantaran kali. Selain ladang dan bantaran, ternyata terdapat makam di RTH ini. Di pepohonan sekitaran makam teramati burung 13) perling kumbang (Aplonis panayensis). Juga terdapat pemancingan, burung 14) raja udang meninting (Alcedo meninting) dijumpai banyak orang di sini.
Selain burung-burung yang sudah disebutkan sebelumnya, ada lagi burung-burung yang ditemui oleh para pengamat hari itu yang mencapai 30 orang dari berbagai komunitas. Berikut daftar burung lainnya yang ditemui juga di RTH HK Pesanggrahan yaitu 15) wiwik kelabu (Cacomantis merulinus), 16) burung cabe jawa (Dicaeum trochileum), 17) kipasan belang (Rhipidura javanica), 18) merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), 19) walet sarang putih(Collocalia fuciphaga), 20) cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), 21) cipoh kacat (Aegithina tiphia), 22) kareo padi (Amaurornis phoenicurus), 23) bondol haji (Lonchura maja), 24) cekakak sungai (Todirhampus chloris), dan25) sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus). Jadi, dari hasil pengamatan yang diperoleh pada JBW edisi September ini, (Sabtu, 7/9) pukul 07.00-10.00 WIB di Hutan Kota Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dijumpai 25 spesies burung dari berbagai macam bentuk habitat yang terdapat dalam RTH tersebut. Dari ke semua burung, hanya seekor layang-layang batu (Hirundo tahitica) yang terbang gesit sangat rendah, yakni hanya sekitar 3-5cm dari permukaan gunung sampah yang rata.

Terimakasih untuk KPB Nectarinia UIN, KPB Nycticorax UNJ, Comata UI, Canopy UI, Pengamat Burung Indonesia, dan Transformasi Hijau. ketemu lagi di JBW ke-6 bulan depan di Taman Menteng dan Taman Honda, dan semoga lebih banyak lagi partisipannya, see ya! ;D (Desi Ayu Triana – TRASHI)

Sumber : Jakarta Bird Walk V: babeh, sampah, dan burung Hutan Kota Pesanggrahan! http://bit.ly/19CLrpA

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *