Edy Sutrisno bercerita tentang alih fungsi lahan di Jakarta
Sabtu (27/07), Transformasi Hijau bersama WWF, Greenpeace Indonesia, None Jakarta 2012 dan AIESEC mengadakan diskusi publik dengan tema “Ekowisata: Apakah Gaung Eko Terdengar?”

Dalam diskusi ini, TRASHI yang diwakili oleh Edy Sutrisno berbagi kisah tentang mimpi dan kegiatan TRASHI yang dilakukan di Ruang Terbuka Hijau Jakarta. “Luas ruang terbuka hijau Jakarta dari tahun ke tahun mengalami penyusutan” papar Edy. Berkurangnya luas RTH Jakarta ini disebabkan oleh alih fungsi lahan. Wujudnya antara lain diubah menjadi pusat perbelanjaan, perumahan dan perkantoran.

Edy menambahkan, luas ruang terbuka hijau yang tersisa hanay sebesar 10% dari luas Jakarta. Luasan yang sangat kecil bagi sebuah ruang terbuka untuk melayani ekosistem Jakarta. Atas keprihatinan ini, maka digagaslah sebuah komunitas yang menyuarakan pentingnya peran ruang terbuka hijau yang dikenal sebagai TRASHI.

Dalam kegiatannya, TRASHI memanfaatkan luasan 10% tersebut untuk beraktifitas, antara lain ada di taman kota, hutan kota dan hutan mangrove. Edy menceritakan kegiatan TRASHI yang berkaitan dengan pendidikan dan wisata di kawasan hutan mangrove Jakarta, seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Suaka Margasatwa Pulau Rambut. “Kedua kawasan tersebut memiliki nilai konservasi yang tinggi, karena menjadi perlindungan terakhir dari beberapa spesies terancam punah, seperti Bubut jawa, Jalak putih dan Bangau bluwok.”

Dalam rangka meningkatkan kepedulian warga Jakarta akan keberadaan spesies burung langka ini, TRASHI kerap mengadakan kegiatan wisata edukasi di kedua kawasan konservasi tersebut. Tidak hanya itu, TRASHI secara rutin mengadakan kampanye publik melalui aksi bersih sampah Trash Buster di Suaka Margasatwa Muara Angke. 

“Beberapa bentuk kegiatan yang sudah dilakukan TRASHI di atas adalah wujud kegiatan ekowisata dengan sasaran masyarakat umum. Ekowisata dalam kacamata TRASHI adalah kegiatan pendidikan lingkungan dan wisata yang dapat menumbuhkan pengetahuan dan rasa cinta lingkungan bagi para peserta yang terlibat” jelas Edy. Ekowisata merupakan kegiatan yang dapat dilakukan untuk memberikan keuntungan bagi lingkungan, masyarakat setempat dan juga para wisatawan, tambahnya. 

Jadi sudah saatnya, segala kegiatan yang berkaitan lingkungan diarahkan kepada hal yang saling menguntungkan, yaitu dengan menjaga hak setiap pelaku dan obyeknya terpenuhi secara adil tutup Edy.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *