Kamera dapat melindungi flora dan fauna dari kepunahan? Hal yang tidak pernah terbayang dalam benak saya, namun kalimat ini terlontar dari salah seorang pembicara work shop fotografi Ady Kristanto (Indonesia Wildlife Photography) dalam acara Jakarta Endemic Birds Project yang diikuti oleh guru-guru sains Al-Izhara Pondok Labu di Suaka Margasatwa Muara Angke Sabtu (23/03/2013).

“Hari ini sangat membuat penasaran dari hari biasanya,” tutur Dian Safarulloh salah seorang guru Al-Izhar Pondok Labu yang tergabung dalam kegiatan Jakarta Endemic Birds Project. Guru-guru sains Al-Izhar sudah terbiasa dalam kegiatan belajar mengajar yang menjadi rutinitas dilakukan disekolah. Namun hari ini hari yang istimewa sabtu (23/03) dimana ada yang tidak biasa dari hari biasanya.

Katak Pohon Jawa (Rhacophorus javanus) muda 

di Cagar Alam Telaga Warna, Puncak Jawa Barat

 Delapan guru sains Al-Izhar yang tergabung dalam klub sains Al-Izhar “Raffles” mengikuti kegiatan Jakarta Endemic Birds Project yang di dalmnya terdapat muatan materi menulis artikel, fotografi alam liar, teknik pengambilan data (survei), dan teknik fasilitator pendidikan lingkungan hidup. Kegiatan Jakarta Endemic Birds Project ini dipromotori oleh komunitas Transformasi Hijau yang banyak dikenal dengan “TRASHI” selaku otak utama dalam aksi kegiatan konservasi lingkungan.


Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan ini dibuka untuk semua kalangan masyarakat yang ingin mengetahu bagaimana kita bisa berperan dalam segala hal demi memperbaiki dan menjaga warisan lingkungan dunia khususnya Indonesia melalui materi-materi yang diberikan. Salah satu materi yang sangat mencuri perhatian kami untuk dapat berperan dalam menjaga lingkungan yaitu fotografi alam liar yang dibawakan oleh salah satu anggota Indonesia Wildlife Photography, Ady Kristanto yang akrab disapa Mas Ady.

Hal yang jauh dari pikiran kami bahwa fotografi dapat menyelamatkan makhluk hidup dari kepunahan, namun itu yang dikatakan pertama kali oleh Mas Ady saat menyampaikan materi teknik fotografi alam liar. Konservasi melalui fotografi, itu kata yang sangat melekat dalam pikiran saya (Gugum Prayoga). Tidak hanya kalimat luar biasa itu yang saya dapatkan, namun ada beberapa kalimat ajaib yang lainnya seperti “fotografi dapat menghidupkan lagi makhluk hidup yang sudah punah untuk generasi baru”. Tentu saja kalimat-kalimat tersebut membuat kami sangat penasaran untuk terus mengikuti materi yang disampaikan guna mendapatkan penjelasan untuk hal tersebut.

Memperbanyak memotret makhluk hidup di sekitar kita bertujuan untuk “bank foto”. Bank foto ini nantinya berguna untuk merekam keberadaan makhluk hidup yang ditemukan saat 
itu. Mas ady mengatakan bahwa bisa saja hewan atau pun tumbuhan yang kita foto pada waktu itu akan mengalami kepunahan diakibatkan oleh berbagai macam faktor. Sehingga foto yang kita miliki dapat menjadi dokumentasi yang sangat berharga bagi generasi yang mendatang, sehingga mereka akan tetap dapat mempelajari dan mengetahui makhluk hidup apa yang sudah punah disaat mereka belum terlahir di bumi melalui bank foto yang di publikasikan melalui berbagai macam media. 

Ular Pucuk (Ahaetulla prasina) umum ditemukan di ladang pertanian bersemak. 
Ular tidak berbisa ini sering dibunuh karena dianggap petani membahayakan 
apabila tergigit.

Seperti halnya Harimau Jawa yang mengalami kepunahan karena perburuan liar dan rusaknya habitat tempat tinggalnya karena kerusakan yang diakibatkan oleh manusia. Namun saat ini kita tetap dapat mempelajari Harimau Jawa berkat dokumentasi yang telah dibuat pada saat hewan pemegang kekuasan puncak pada rantai makan itu masih hidup melaui foto-foto yang didapat. Foto-foto tersebut menyebabkan makhluk hidup yang sudah punah akan tetap hidup walaupun hanya dalam bentuk foto.

Saat ini banyak media elektronik yang dapat menampung foto-foto alam liar yang kita dapatkan untuk kita share dengan mudah dan geratis seperti Indonesia Wildlife Photography, Mencintai Odonata (khusus capung), Oriental Bird Images, dan sebaginya. Media ini salah satunya bertujuan untuk kampanye menjaga lingkungan, karena banyak ditemukan hewan dan tumbuhan yang jarang banyak ditemukan oleh masyarakat di lingkungan mereka. Dengan adanya foto-foto tersebut diharapkan mampu menyadarkan masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan agar tetap terjaga baik.

Kegiatan yang diadakan Transformasi Hijau untuk membuat agen-agen perubahan lingkungan seperti ini sangat berguna untuk membantu menyebarkan hipnotis-hipnotis positif bagi keseimbangan bumi ini. Dengan hal kecil kita mampu merubah hal yang besar dan tidak mungkin kalau dikerjangan secara bersama-sama. Satu foto yang dihasilkan dari jari telunjukmu dapat membuka mata miliaran mata di bumi dan menggerakan kaki serta tangan untuk peduli terhadap lingkungannya. (Gugum Prayoga – Guru Al-Izhar).



Sumber tulisan: 
artikel ini dimuat di Aliz News Edisi 2, Senin, 1 April 2013.

Tentang penulis: 
Gugum Prayoga berprofesi sebagai guru di SMA Al-Izhar Pondok Labu. Pemuda yang akrab dipanggil Gugum ini merupakan alumni Universitas Negeri Jakarta. Selama aktif kuliah hingga sekarang, Gugum sudah terlibat dalam kegiatan pengamatan burung dan herpetofauna yang dilakukan oleh Transformasi Hijau. 

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *