Saya memang bukan asli keturunan Jakarta (baca: Betawi). Saya juga tidak dilahirkan di Jakarta, tetapi saya menetap di Jakarta sejak tahun 1988. Jadi, sudah seharusnya sebagai pemegang KTP Jakarta, saya harus mengenal Jakarta dengan berbagai keunikan dan kekhasannya. Namun pada kenyataannya, banyak hal yang belum saya kenal dengan baik, termasuk lokasi-lokasi menarik di Jakarta dan segala permasalahannya. 

Tanggal 23 – 24 Maret 2013, saya dan tujuh orang kawan-kawan guru IPA Perguruan Islam Al-Izhar Pondok Labu (penikmat kumpul-kumpul) mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan survey burung endemik Jakarta yang diselenggarakan oleh Transformasi Hijau, salah satu komunitas penggiat konservasi lingkungan. Pelatihan diselenggarakan di Suaka Margasatwa Muara Angke, sebuah lokasi yang dikatagorikan sebagai obyek wisata edukasi konservasi alam.

Sabtu pagi tanggal 23 Maret 2013, selepas mengantar anak-anak saya berkunjung ke rumah saudara sepupunya, saya bergegas menuju stasiun Manggarai untuk menumpang kereta commuter line menuju Muara Angke. Dari stasiun Manggarai memang ada kereta yang melalui Angke, dalam benak saya Angke adalah kependekan dari Muara Angke. 

Foto kiri adalah papan nama Suaka Margasatwa Muara Angke
yang letaknya jauh dari stasiun kereta Angke (foto kanan)
Setibanya di stasiun Angke, saya bertanya ke beberapa orang arah menuju lokasi Suaka Margasatwa Muara Angke. Dan alangkah kagetnya, ketika orang-orang yang saya tanyai mengatakan bahwa Angke bukan Muara Angke. Akhirnya saya putuskan untuk menyewa ojek menuju Suaka Margasatwa Muara Angke.

Melelahkan memang, tapi pengalaman ini membuat saya semakin ingin tahu sejarah Angke dan Muara Angke lebih jauh lagi. Ingin tahu lebih banyak lagi lokasi-lokasi menarik yang ada di Jakarta. Angke dan Muara Angke membuat saya bersemangat mengunjungi berbagai tempat yang unik di Jakarta.

Beberapa referensi menyatakan bahwa Angke berasal dari bahasa Cina (Hokkian) yaitu “Ang” yang berarti darah dan “Ke” berarti sungai/kali. Pada tahun 1740, terjadi pemberontakan etnis Tionghoa di Batavia yang mengakibatkan ribuan etnis Tionghoa dibantai oleh Belanda. Mayat yang bergelimpangan kemudian dihanyutkan ke kali yang ada di dekat peristiwa tersebut, sehingga kali tersebut berwarna merah karena darah. Setelah peristiwa itu, kali tempat pembuangan mayat tersebut dikenal sebagai Kali Angke dan nama daerahnya disebut dengan Angke. 

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, kampung itu bernama kampung Bebek, karena warga Tionghoa yang tinggal di sana banyak yang berternak bebek. Lokasi kampung bebek sangat strategis untuk memelihara bebek karena dekat dengan sungai.  Daerah tersebut kemudian disebut dengan Muara Angke, dan kalinya adalah Kali Angke. 

Atas: Citra satelit kawasan hutan bakau di Muara Angke
Bawah: Kondisi Kali Angke yang penuh sampah plastik 
Sumber tulisan lain menyatakan bahwa pada awal abad ke-16, Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Tubagus Angke akan menggempur benteng Portugis di Sunda Kelapa. Pasukan Kerajaan Banten tersebut bermarkas di wilayah dekat muara sungai yang sekarang bernama Kali Angke. Meski saat ini dikenal sebagian besar penduduk Jakarta sebagai kampung nelayan, tempat pelelangan ikan, dan pelabuhan ikan. Namun Muara Angke menyimpan potensi lain. Di daerah ini, terdapat Suaka Margasatwa Muara Angke, kawasan hutan bakau seluas 25,02 hektare yang dihuni berbagai spesies burung. Kawasan hutan Angke-Kapuk yang terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung, dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk merupakan hutan bakau terakhir yang dapat dijumpai di Jakarta. 

Namun yang mengkhawatirkan, sebagian besar kawasan tersebut saat ini telah berubah menjadi perumahan elit yang bernama “Pantai Indah Kapuk”. Di sisi lain, muara dari Kali Angke ini telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai plastik dan bangkai sampah lainnya. Akankah sejarah mengubah nama Kali Angke menjadi “Kali Elit” atau “Kali Plastik” ? Semuanya tergantung kesadaran kita memahami arti penting hutan bakau dan dampak membuang sampah di sungai. (Oo Harsono – Guru SMA Al-Izhar)

Sumber tulisan: artikel ini dimuat di Aliz News Edisi 2, Senin 1 April 2013.
Tentang penulis: Oo Harsono berprofesi sebagai guru di SMA Al-Izhar Pondok Labu. Artikel ini ditulis sebagai salah satu hasil pelatihan penulisan yang diadakan oleh Transformasi Hijau di Suaka Margasatwa Muara Angke. Pelatihan ini dilakukan dalam rangkaian kegiatan Jakarta Endemic Birds Project. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *