Kareo padi (Amaurornis phoenicurus)

Asian Waterbird Census (AWC) merupakan suatu kegiatan pengamatan burung air tahunan yang dilakukan setiap minggu ke 2 dan 3 di bulan Januari.  Kebetulan sekali saya ditugaskan untuk mengkordinir acara ini oleh TRASHI. Menurut saya, acara ini sangat menantang karenakan kondisi cuaca yang tidak stabil. Isu banjir yang masih beredar hampir membuat acara ini gagal. Namun kita coba berkordinasi dengan pihak Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Ternyata di sana baik-baik saja, walau sempat beberapa hari yang lalu air naik. Saya bersama dua rekan saya dari BBC (Bio Bird Club) UNAS, yaitu Adam dan M. Khoir melakukan survey untuk memastikan wilayah SMMA benar-benar tidak banjir dan aman untuk kegiatan kami.

Jumat (25/01/2013) jam 19.00 WIB kami pun jalan menuju SMMA. Jam 20.10 WIB, kami sampai di sana dan memastikan daerah tersebut aman. Sesudah kami pastikan aman, kami menginap di sana, karena pagi-paginya kami harus menyiapkan alat untuk melakukan pengamatan.  Sabtu (26/01/2013) jam 05.00  WIB, pagi itu SMMA diguyur hujan ringan. Saya agak was-was dan takut akan terjadi banjir susulan. Dari prediksi yang saya dengar, Jakarta akan diguyur hujan lebat pada akhir-akhir bulan Januari. Alhamdulilah prediksi tersebut salah, karena 30 menit kemudian hujan berhenti dan tidak lama kicauan burungpun  mulai terdengar di sekitar SMMA. Setelah itu kami sarapan pagi dan menunggu para volunteer yang berasal dari beberapa Universitas yaitu UNAS, UI, UNJ dan UNY, serta Ady Kristanto dan Hendra Aquan dari TRASHI. Selain itu kami juga kedatangan Diaz dan Ayut. Mereka berdua dari Yayasan IAR Indonesia.

Acara dimulai jam 09.00 WIB. Saya membuka acara tersebut dilanjutkan oleh mas Ady dengan membagikan kelompok. Kami di sini melakukan sensus burung air di dua kawasan yaitu SMMA dan Hutan Lindung Angke Kapuk dengan metode berjalan kaki menyusuri jalur yang sudah ada. Kawasan SMMA memiliki jalur yang lumayan panjang, sehingga saya menempatkan dua tim di lokasi ini. Sedangkan di Hutan Lindung hanya satu tim saja. 

Tim pertama terdiri atas saya dan Danny. Tim kedua ada Adam, Diaz dan Marsya. Sedangkan di tim ketiga dianggotai Khoir, Eci, Panji dan Mas Hendra.

Tim pertama dan kedua tugasnya mendata burung-burung air yang ada di SMMA. Tim ketiga di Hutan Lindung Angke Kapuk. Saya masuk di tim 1. Area pengamatan kami dimulai dari pertengahan jalur sampai ujung jalur jalan panggung SMMA. Kami mulai melakukan pendataan dari jam 09. 20 – 11.00 WIB. Selama survey ini, kami berhasil mendata 10 jenis burung air yaitu:

1. Pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris)
2. Pecuk ular asia (Anhinga melanogaster)
3. Bambangan kuning (Ixobrychus sinensis)
4. Belekok sawah (Ardeola speciosa)
5. Kokokan laut (Butorides striatus)
6. Kowak malam kelabu (Nyctycorax nyctycorax)
7. Kuntul besar (Casmerodius albus)
8. Cangak abu (Ardea cinerea)
9. Kareo padi (Amaurornis phoenicurus)
10. Trinil pantai (Actitis hypoleucos)

Selain mendata burung-burung air, kami juga mendata burung-burung hutannya sebagai data pribadi. Dari hasil pengamatan, kami berhasil mendata 17 jenis burung hutan. Jenis burung hutan yang menarik bagi kami adalah ditemukannya dua jenis burung yang terancam punah yaitu Bubut jawa (Centropus nigrorufus) 1 individu dan Jalak putih (Sturnus melanopterus) 2 individu.
Setelah jam 11.00 WIB, kami kembali berkumpul untuk menyatukan data-data hasil pengamatan. Hasilnya kami berhasil mendata 15 jenis burung air dan 97 individu. Jumlah individu terbanyak adalah Kareo padi (Amaurornis phoenicurus) yaitu 25 individu, dan yang terendah adalah Bambangan merah (Ixobrychus cinamomenus) dan Kuntul besar (Casmerodius albus) 1 individu. 

Semoga kegiatan ini dapat kita lakukan setiap tahunnya, mengingat hasil pendataan dari tahun ketahun jumlah individu burung-burung air semakin berkurang. Hasil yang diperoleh juga bisa digunakan sebagai bahan kampanye kepada masyarakat dan khususnya generasi muda agar lebih peka lagi terhadap kondisi-kondisi lingkungan yang terjadi, terutama terhadap kelestarian burung. SALAM LESTARI!!! (Gusti Wicaksono – BBC UNAS )

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *