Selamat pagi kawan, hari ini merupakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia ke 41. Pencanangan kawasan lahan basah dunia sudah dimulai saat penandatanganan Konvensi Lahan Basah di Ramsar, Iran, 2 Februari 1971. Kalau mendengar lahan basah, apa yang akan terlintas di benak kawan-kawan? Memang istilah lahan basah belum menjadi istilah yang populer di kalangan umum. Lahan basah merupakan daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan. Lalu, apakah dengan adanya Konvensi Lahan Basah dapat menjamin kelestariannya? Pada kenyataannya tidak demikian. Di kebanyakan wilayah di Indonesia, khususnya Jakarta, keberadaan lahan basah disingkirkan secara sistematis dengan dalih pembangunan dan pengembangan ekonomi. Akibatnya, banyak kerugian material maupun ekonomi yang ditimbulkan karena salah urusnya lahan basah Jakarta.

Di mana lahan basah Jakarta?

Suaka Margasatwa Muara Angke, lahan basah Jakarta
Jika menilik sejarah Jakarta, kota ini sebenarnya memiliki banyak sekali kawasan lahan basah. Bisa dikenali dengan lokasi yang dimulai dengan kata “rawa”. Namun, coba sekarang kita lihat ke lokasi. Rawa Bambu di kawasan Jakarta Barat, Rawa Sari di Jakarta Timur dan masih banyak rawa yang lain lagi sudah beralih fungsi. Kawasan resapan air Jakarta ini sudah ditimbun, dipadatkan menjadi kawasan pemukiman, jasa dan pusat ekonomi.

Kawasan resapan air Jakarta yang tersisa seperti Danau Sunter, Danau Pluit, hutan mangrove Angke Kapuk, sudah tidak mampu lagi mengendalikan aliran air yang berlimpah saat musim hujan tiba. Di pesisir utara, luasan lahan basah yang tersisa sekitar 180,11 hektar. Kawasan lahan basah tersebut antara lain terdiri dari Hutan Lindung Angke Kapuk dengan luas 44,76 hektar, Taman Wisata Alam Angke Kapuk dengan luas 99,82 hektar, Suaka Margasatwa Muara Angke dengan luas 25,02 hektar dan Arboretum Mangrove dengan luas 10,51 hektar.  

Jakarta lumpuh tanpa lahan basah

Banjir lumpuhkan transportasi
Apakah luasan kawasan resapan sebesar 180,11 hektar itu cukup? Jawabannya sudah kita lihat pada 17 Januari 2013, ketika Jakarta tergenang air. Kondisi ini mengganggu aktifitas warga, melumpuhkan  ekonomi kota dan memaksa 40.000 warga Jakarta mengungsi. Para pakar mengatakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai Rp 1,5 miliar per jam. Nilai ini adalah prediksi menyeluruh. Jika dihitung teliti, tentu tingkat kerugian yang disebabkan oleh banjir lalu tentu akan sangat tinggi.

Lumpuhnya sebuah kota besar seperti Jakarta yang disebabkan oleh lemahnya pengelolaan sumber daya air ini merupakan pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai. Pengalaman selama 10 tahun terakhir, sejak 2002 dan 2007 sepertinya belum dapat memacu pemerintah kota untuk mengelola potensi banjir yang setiap musim hujan singgah di Jakarta.

Jika dicermati, ternyata tidak ada penambahan luas lahan basah untuk resapan air di Jakarta. Kondisi ini ditambah lagi dengan gagalnya pemerintah propinsi Jawa Barat dalam mengelola laju alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai, misalkan seperti Puncak. Salah kelola lingkungan yang dianggap hal sepele ini, ternyata mengorbankan banyak hal, mulai dari ekonomi hingga jiwa. Apakah kebodohan seperti ini harus terus berlanjut? 

Lahan basah penjaga kehidupan

Kampung Tanah Rendah lokasi langganan banjir
Lahan basah yang terlihat tidak indah, ternyata memiliki potensi yang sangat penting bagi kehidupan. Di dalam lahan basah kita bisa menemukan keanekaragaman hayati yang tinggi. Dalam survei Asian Waterbirds Census 2013, TRASHI mencatat setidaknya ada 97 individu burung air yang memanfaatkan keberadaan Hutan Lindung Angke Kapuk dan Suaka Margasatwa Muara Angke untuk berkembang biak maupun mencari makan.

Fungsi lahan basah sebagai penyerap air, perannya sangat berarti saat musim hujan tiba. Kawasan ini sebagai area penyimpan cadangan air tawar. Jika penataan kota Jakarta sejak awal mengedepankan potensi lingkungan yang dimiliki, tentu dampak luapan air tidak akan separah banjir lalu. Berdasarkan perhitungan ekonomi, kita bisa menilai, berapa kerugian ekonomi yang bisa ditekan serta kerugian jiwa yang bisa dicegah jika pemerintah dapat mengelola kota secara berkelanjutan? 

Lahan basah, khususnya hutan mangrove yang berada di pesisir utara Jakarta, memiliki peran utama dalam upaya pencegahan abrasi. Jika kita melihat melalui peta udara, coba perhatikan berapa banyak tutupan hijau yang bisa ditemukan di sepanjang pantai Jakarta? Bandingkan dengan jumlah bangunan yang berjejer di tepian pantai. 

Masa depan kota Jakarta tidak hanya ditentukan dengan penambahan pusat perekonomian, pusat hiburan maupun pemukiman saja. Penataan kota yang berpihak pada upaya pelestarian lingkungan sudah saatnya menjadi motivasi dalam sebuah pembangunan kota. Tentunya dalam hal ini, tidak hanya selalu menuntut peran pemerintah. Peran aktif warga Jakarta juga sangat dibutuhkan untuk mendukung semangat perubahan kota Jakarta sebagai kota yang ramah pada lahan basah. Lestarikan lahan basah, selamatkan kehidupan. Selamat memperingati Hari Lahan Basah Sedunia. (Hendra Aquan – Direktur TRASHI)



Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *