Merajut Sabuk Hijau di Pesisir Utara Jawa (Bagian 1)

Hari mulai memanas , ketika aku sedang membersihkan toilet pria swimming pool tempat aku bekerja di salah satu hotel ternama di bilangan Jakarta Pusat. Itulah kegiatan keseharianku dalam mengisi waktu, bekerja mencari segelas susu untuk anak di rumah. Tiba -tiba HP ku bergertar keras sekali , ku lihat telpon dari Hendra Aquan dia mengajak untuk ikut ke Indramayu. Hati terasa senang namun galau yang kurasakan saat itu. Tentu senang bisa pergi, dan juga galau karena hanya bisa libur satu hari sedangkan ke Indramayu butuh waktu tiga hari. Aku coba beranikan diri untuk berbicara dengan manager untuk mendapatkan ijin pergi. Alhamdulillah akhirnya ijin tersebut ku dapatkan juga. Seketika rasa galau itupun berubah menjadi senang. 

-HARI PERTAMA-

Hari yang ditunggu tiba juga. Perjalanan menuju Indramayu menggunakan kereta dari stasiun Gambir. Sedikit was was dalam perjalanan, karena saat mau berangkat nyaris saja dua teman kami tertinggal. Sepertinya dewi Fortuna bersama mereka saat itu. Selama dalam perjalanan di kereta, saya mengisi kekosongan dengan bermain tarot. Teman-teman satu rombongan banyak yang “berkonsultasi nasib” denganku.

Sampai di Indramayu, banyak sekali orang yang memakai topi sama denganku. Sedikit malu dan tetap stay cool saja. Dari stasiun, kami menuju ke pantai Karangsong. tiba di lokasi, kami disambut angin pantai yang sejuk. Seandainya aku membawa layangan, lamunku. Kondisi saat itu anginnya pas banget buat main layangan. 

Dengan ditemani segelas kopi dan menikmati indahnya pantai Karangsong sambil menunggu acara dimulai. Sampai malam tiba belum ada tanda-tanda kehidupan panitia di sini. Ya sudah karena memang kami dari Jakarta ( Ilham, Sinta , Najib ,Tata) sudah biasa jadi tim hore, ya sudah kami meramaikan sedikit perkenalan di sana. Membuat Stand Up Comedy dan games sendiri hingga makan malam tiba. Menu makan malam yang disajikan saat itu ada ikan bakar, hasil panen nelayan sekitar pantai Karangsong. Sambal ikan bakarnya pedas banget sampai sekarang masih terasa jika dibayangkan. 

Setelah makan malam kami mulai berkenalan dengan semua peserta , ada yang dari Brebes, Indramayu dan kami mewakili Jakarta. Kegiatan malam itu diisi dengan diskusi dan pengenalan LSM SIKLUS, mulai dari sejarah dan bagaimana terbentuknya LSM tersebut. 

Saat istirahat malam, para peserta nge camp di pantai, sedangkan para pendamping tidur di hotel. Kami yang tinggal di camp tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, selalu saja digodain nyamuk binal di sini. Segala cara sudah dipakai, seperti lotion anti nyamuk, tapi tetap saja kami serangan nyamuk itu sungguh luar biasa. Hingga pagi tiba dengan muka ngantuk setengah tidur setengah bentol. (Bersambung bagian 2)




Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *