Ekosistem hutan mangrove tersisa di Hutan Lindunga Angke Kapuk Jakarta


-HARI KEDUA-

Pagi hari kami disambut indahnya sunrise di pantai. Walaupun agak bingung, kok ada sunrise padahal ini pantai Utara. Kegiatan selanjutnya diisi dengan senam pagi. Lumayan buat ngurusin badan dikit, tapi kok gak kurus juga tuh sehabis senam.

Seusai senam, kami berkeliling hutan magrove yang berada tidak jauh dari lokasi camping. Ada yang menarik dari perjalanan itu, kami melewati tambak ikan bandeng. Dari cerita yang aku dengar, sebelum tambak tersebut diisi bandeng, tambak akan ditaburi racun agar ikan selain bandeng mati. Sedikit miris dengan cara tersebut karena banyaknya ikan yang mati  di tambak tersebut. Dalam jangka waktu 3 bulan, barulah tambak siap diisi dengan bandeng. 

Perjalanan selanjutnya menuju hutan mangrove. Di sini kami belajar tentang pemanfaatan hutan mangrove. Ternyata banyak juga hasil olahannya, ada yang bisa dijadiin kerupuk, tepung, kue, bahkan obat anti jerawat dengan garansi satu tahun. “Wah, bisa jadi ladang duit nih ” kata najib salah satu teman kami dari Teens Go Green.

Di sore hari kegiatan kami isi dengan TRASH BUSTER (bahasa kerennya mulung dari TRASHI). Sepanjang mulung kami seperti berbelanja di pantai ada. Sebut saja celana dalam, kasur, sampah plastik, styrofoam. Semua dapat ditemukan di satu lokasi. Tidak hanya sampah masyarakat, kami juga menemukan ubur-ubur yang mati terdampar di pinggiran pantai. Tidak hanya satu, tapi banyak sekali yang kami temukan di sepanjang pantainya. 

Malam hari merupakan saat horor yang tidak bisa kami elakkan lagi. Terbayang kejadian traumatis semalam: dihantui nyamuk dan gerombolannya. Tidak ingin dijajah bangsa serangga, beberapa obat nyamuk bakarpun sudah disiapkan, layaknya meriam yang menjaga perbatasan Indonesia. Setiap sudut tenda tidak luput dari jebakan obat nyamuk. Sepertinya upaya ini masih kurang mempan. Laporan mata-mata menyebutkan, kalo nyamuk binal di sini sudah kebal dengan semua obat-obatan berbagai merk. 

Tidak disangka, malam itu kami mendapat bantuan dari langit. Hujan turun di pantai Karangsong. Beberapa saat kemudian, nyamuk dan gerombolannya sudah lenyap melarikan diri. Sepertinya musuh utama nyamuk Karangsong adalah hujan. Saat itu juga kami mulai tenang, jadi bisa tidur dengan nyenyak. 

Di tengah malam kami tertidur pulas, tenda yang kami tempati bergoncang keras sekali. Angin pantai malam itu sungguh tidak bersahabat. Berbeda saat kami datang pertama ke Karangsong. Angin ditimpali hujan deras membuat kami berpikir bahwa malam ini terjadi  bencana. Hujan semakin deras serta membuat tanah pantai turun, angin semakin kencang. Parit yang kami buat di samping tenda menumpuk dengan air karena kami lupa membuat aliran air. Malam itu sangat mengecam badai datang. Itu adalah pertama kalinya saya merasakan badai. Panitia kemudian mengevakuasi kami, ke rumah warga terdekat. Sedangkan kami yang dari Jakarta mengungsi ke hotel. Tentunya nyaman banget di sini, dibandingkan dengan di dalam tenda bersama gerombolan nyamuk. 
(Bersambung ke bagian 3)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *