Asian Waterbirds Census tahun 2013 diikuti oleh TRASHI beserta para volunteer. TRASHI mengadakan sensus di 2 kawasan, yaitu Hutan Lindung Angke Kapuk dan Suaka Margasatwa Muara Angke.

“Pada sensus burung air tahun ini, TRASHI melibatkan para pengamat burung muda yang berasal dari Universitas Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta dan International Animal Rescue. Keterlibatan volunteer muda ini sangat membantu dalam proses pengambilan data di lapangan”, terang Gusti Wicaksono, koordinator AWC TRASHI.

Briefing tim sensus AWC 2013

Gusti menambahkan, AWC tahun ini sangat menantang, pasalnya isu banjir besar yang akan terjadi di Jakarta sempat membuat teman-teman pengamat burung yang akan hadir harus membatalkan niatnya. Tapi ternyata, ada 10 orang yang tidak tergoda oleh isu banjir tersebut. Jika tidak ada isu tersebut, mungkin peserta yang terlibat akan sangat banyak seperti pada tahun-tahun sebelumnya.


Sensus berlangsung dari pukul 09.00 – 12.00 WIB. Selama sensus, para peserta melakukan pendataan dengan metode berjalan kaki di sepanjang jalur track yang ada di dalam kedua kawasan tersebut. Setiap bertemu dengan spesies burung air dalam proses susur track ini, jumlah individu dan jenis yang didapatkan dicatat, dan difoto untuk kemudian ditabulasikan ke dalam lembar isian pengamatan akhir yang telah disiapkan.

“Dari proses pengamatan, kami menemukan 97 individu. Spesies yang paling banyak dijumpai adalah Kareo padi sebanyak 25 individu. Jumlah spesies yang dijumpai paling sedikit adalah 1 individu, yaitu Bambangan merah dan Kuntul besar” terang Gusti saat menjelaskan data hasil sensus.

Sensus di Hutan Lindung Angke Kapuk
Saat melakukan sensus, kami sempat bertemu dengan seekor Bubut jawa, yang merupakan burung endemik Jakarta. Keberadaannya hanya tercatat di SMMA saja. Hasil penelitian yang pernah dilakukan, menjelaskan bahwa spesies ini hanya tersisa sekitar 4 – 6 individu saja di hutan mangrove ini, tambahnya.

Hasil sensus yang telah dilakukan ini, diharapkan dapat menjadi bahan acuan penyelamatan hutan mangrove yang tersisa di Jakarta. Sekaligus juga dapat menjadi media penyadaran kepada masyarakat luas untuk tidak memburu dan memelihara burung liar. Burung akan terlihat indah saat mereka berada di alam liar. Jadi mari kita peduli dengan keberadaan dan kelestarian burung-burung Indonesia, pesan Gusti. (Hendra Aquan – TRASHI)

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *