Anak-Anak Tokyo Lestarikan Jalak Bali

Ada yang pernah tahu Jalak bali? Burung ini merupakan satwa endemik Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Orang Bali menyebutnya sebagai si Jegeg. Kenampakannya hampir mirip dengan Jalak putih yang saat ini sedang disurvei oleh TRASHI bersama Oriental Bird Club. Kepala Balai TNBB, Bambang Darmadja, mengungkapkan bahwa populasi Jalak bali tinggal 180 ekor saja. Maka tidak heran jika satwa ini dinyatakan berstatus kritis oleh The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dongeng dan uchiwa untuk galang donasi konservasi Jalak bali


Kritisnya status kelestarian Jalak bali ini membuat beberapa lembaga konservasi dari luar negeri ikut terlibat di dalamnya. Salah satu lembaga tersebut adalah i-inet, sebuah LSM konservasi dari Jepang. LSM Jepang tersebut melakukan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TNBB.

Saat saya bertandang ke TNBB dan bertemu dengan teman dari i-inet, mereka bercerita bahwa upaya kampanye penyelamatan Jalak bali juga dilakukan di Tokyo, Jepang untuk menggalang dana kegiatan konservasi yang dilakukan di TNBB. Wah ini merupakan hal yang luar biasa. Mengajak orang yang jauh dari habitat Jalak bali untuk ikut terlibat dalam kegiatan konservasi? Sepertinya ini hal yang tidak mungkin dilakukan.

Dari pengalaman yang mereka bagikan, ternyata cara yang dilakukan i-inet jauh dari kesan hebat dan keren untuk negara maju seukuran Jepang. Teman-teman i-inet melakukan penggalangan dana dan dukungan melalui dongeng untuk anak-anak dan berkreasi dengan “uchiwa” kipas Jepang. Beberapa saat saya mencoba mencerna dan menunggu kalimat lain yang lebih keren lagi. Ternyata tidak ada. Wow, ternyata sedemikian hebatnya dampak dongeng dan kreasi, sehingga bisa menggalang dukungan dana untuk konservasi Jalak bali yang hidup ribuan kilometer jauhnya dari Tokyo. 

Dongeng tersebut dilakukan dalam sebuah festival di Tokyo. Peralatan yang digunakan juga terhitung minimalis, yaitu berupa lembaran kertas berukuran A4 yang berisi gambar-gambar Jalak bali di habitat aslinya. Gambar tersebut juga dilengkapi dengan alasan mengapa Jalak bali perlu dilestarikan.

Usai dongeng, dilanjutkan dengan bekreasi dengan uchiwa. Bahan yang disiapkan adalah potongan-potongan gambar Jalak bali serta pepohonan tempat hidupnya. Anak-anak kemudian diminta untuk berkreasi dengan menggunting dan menempel serta mewarnai uchiwa dengan gambar yang sudah disediakan. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ini dikenakan donasi yang kemudian dikumpulkan untuk kemudian diserahkan ke masyarakat sekitar TNBB. Setelah itu, mereka diminta menuliskan pesan dan kesan mereka pada selembar kertas. Pesan dan kesan tersebut kemudian ditempelkan pada kertas yang berbentuk batang pohon.

Pesan yang bisa saya simak dari cerita teman Jepang ini adalah, cara mengajak orang  untuk peduli pada kegiatan konservasi tidak perlu rumit dan mahal. Selama informasi yang disampaikan menarik dan kreatif, pastilah menjadi media yang luar biasa pengaruhnya. Dongeng dan uchiwa bisa selamatkan Jalak bali lho? Ayo kita selamatkan Jalak putih, spesies endemik Jakarta dengan kreatifitas yang tidak kalah uniknya. Berani menerima tantangan ini? (Edy Sutrisno & Hendra Aquan – TRASHI)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *