Biopori: Flash Mob a la TRASHI

Aksi Debora, Dewa dan Joshua saat membuat biopori

“Kakak, aku sudah dalam neh”, ujar Debora dengan terus memutar ke kiri dan kanan bor biopori yang dia pegang, usianya mungkin baru sekitar 11 tahunan.  Bersama dengan dua adik laki-lakinya, Dewa dan Joshua, mereka sibuk dan tampak serius memutar-mutar bor yang mereka pegang masing-masing.  

Itu adalah cukilan dialog saat TRASHI bersama Young Transformers, Green Camp Halimun, Koalisi Pejalan Kaki dan siswa SMK 32 melakukan pembuatan lubang biopori di taman Monumen Nasional. Acara yang dilakukan pada hari Minggu, 09/12/2012 lalu ini merupakan salah satu wujud kegiatan TRASHI di ruang terbuka hijau Jakarta.

Kegiatan yang didukung oleh Dinas Pertamanan DKI Jakarta ini, lebih cocok dibilang aktifitas mob. Layaknya genre tarian flash mob, yang sedang marak saat ini, aktifitas pembuatan biopori ini di mulai oleh 5 orang saja. Kegiatan yang nampak aneh bagi beberapa pengunjung Monas ini, akhirnya menarik mereka untuk mendekat, melihat dan akhirnya terlibat untuk mencoba membuat lubang biopori.

Salah satu peserta bertanya, “Untuk apa kita membuat lubang resapan biopori?” Alasannya cukup sederhana. Permukaan tanah di Jakarta saat ini sudah banyak yang ditutup dengan semen dan aspal. Kondisi ini menyebabkan air hujan yang mengalir di atasnya susah meresap ke dalam tanah. Sehingga munculah  banjir. Teknik pembuatan lubang biopori ini, merupakan salah satu cara untuk membantu air lebih mudah meresap ke dalam tanah.

“Melubangi taman Monas ini merupakan awal perkenalan kegiatan TRASHI di ruang terbuka hijau” ujar Edy Sutrisno. Kegiatan serupa akan dilakukan di beberapa taman kota Jakarta, tentunya dengan melibatkan para pengunjung yang berada di lokasi tambah Edy. Upaya ini dilakukan untuk mensosialisasikan pentingnya perawatan ruang terbuka hijau kota dengan melibatkan komunitas serta para pengungjung, karena kelestarian lingkungan tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun perlu juga dukungan semua lapisan masyarakat, terangnya. 

Selain berfungsi mengurangi potensi banjir, cara ini juga sangat membantu pengisian ulang cadangan air tanah. Caranya sederhana, cari lahan terbuka, bisa tanah lapang, atau taman bahkan selokan, lalu siapkan bor biopori. Membuatnyapun mudah, tinggal tancapkan bor ke tanah dan putar searah jarum jam. Kedalaman maksimal adalah 1 meter. Setelah lubang siap, masukkan sampah organik seperti daun ke dalamnya. Sampah organik ini akan menjadi makanan hewan tanah seperti cacing. Cacing inilah yang nantinya membantu membuat terowongan kecil dalam tanah, sehingga memudahkan peresapan air sampai jauh ke dalam tanah. Mudah sekali bukan? 

“Pembuatan lubang biopori ini ternyata mudah juga dan alatnya sederhana. Nanti di rumah, saya mau juga membuat lubang biopori” ujar Anthony dari Koalisi Pejalan Kaki. Saya akan mengajak teman saya untuk membuat lubang biopori. Dia punya halaman yang cukup luas. Jadi lumayan, kalau dibuat biopori, tentu jumlah air yang dapat meresap ke dalam tanah semakin banyak, jelasnya dengan penuh semangat sembari membuat lubang biopori.

Tunggu aksi mob kami selanjutnya di taman kota Jakarta 2013. Jika teman-teman beruntung, bisa langsung ikut bergabung. Jadi sering-seringlah bermain ke taman kota untuk terlibat kegiatan menarik dari TRASHI berikutnya. Be there! (Edy Sutrisno & Hendra Aquan)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *