Tanpa Nasi Kita Tidak Lapar

Ragam tanaman pokok alternatif yang berlimpah di Indonesia

Penduduk dunia saat ini mencapai 7 miliar jiwa. Indonesia sendiri menyumbang 250 juta jiwa di tahun 2011. Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, jumlah penduduk tentu semakin bertambah, padahal luas bumi yang ditempati dari dulu tidak pernah berubah.


Pertambahan penduduk ini menyisakan masalah yang tidak kunjung usai seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Saat ini, isu pangan menjadi perhatian para pemimpin dunia, karena sudah saatnya kita melakukan langkah pencegahan awal sebelum terjadi kelaparan masal.


“Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam hayati tertinggi kedua di dunia, harus mampu menghadapi tantangan kependudukan di masa depan” pesan Email Salim saat memberikan sambutan pada penganugerahan Kehati Award 2012. Kehati Award yang dilangsungkan pada Rabu (29/02/2012) lalu mengangkat tema Keanekaragaman Hayati, Perempuan dan Ketahanan Pangan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang tinggi memiliki berbagai jenis tanaman yang berpotensi menjadi alternatif sumber pangan dunia.

Ada slogan yang mengatakan bahwa belum makan, kalau belum makan nasi. Kalimat ini kerap kita dengar bukan? Selama ini cara pandang kita akan sumber pangan alternatif sudah dihapuskan melalui kalimat tersebut. Dengan kata lain, manusia Indonesia tidak bisa hidup tanpa nasi. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Sumber pangan lain yang memiliki kandungan gizi yang lebih baik dari pada nasi ternyata sangat berlimpah.

“Apakah malu tidak makan nasi ? Apakah kalau makan ubi akan jadi miskin ?” kata Maria Loretta, salah seorang penerima Kehati Award kategori Prakarsa Lestari Kehati. Loretta sejak tahun 2005 mengajak petani Adonara Barat untuk menanam sumber pangan lokal. Di sekitar kebun mereka berlimpah dengan sorgum, jemawut, jelay. “Untuk apa mereka hanya bergantung pada nasi sebagai sumber pangan ? Sedangkan sumber pangan yang ada di Adonara lebih baik ketimbang padi” jelas Loretta.

Upaya Loretta bersama warga Adonara ini adalah bentuk keprihatinan mereka akan kelangsungan tanaman pangan lokal yang semakin punah, karena orang hanya mau menanam padi. Peran perempuan di sini adalah menentukan jenis bahan pokok apa yang akan disajikan di meja makan. Jika setiap perempuan sadar akan potensi sumber pangan selain nasi, secara tidak langsung keanekaragaman hayati tanaman pokok seperti ubi, sorgum, jelay akan tetap terjaga.

Emil Salim dalam sambutannya juga mengingatkan agar menjaga potensi sumber daya alam hayati yang kita miliki. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan jenis tanaman  lokal sebagai menu makanan kita. Jadi jangan kuatir tidak bisa makan kalau tidak ada nasi, karena negeri kita berlimpah tanaman pangan yang bergizi. (Hendra Aquan – Transformasi Hijau)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *