Otong Ajak Anak Bojonggede Jaga Ciliwung

Halo teman-teman, kenalkan aku Otong. Aku tinggal di tepi Ciliwung yang masih ada hutan bambunya, sama seperti teman-teman di Bojonggede. Aku mau cerita, mengapa kita harus menjaga sungai. Teman-teman siap mendengarkan ya?  

Suara khas pendongeng mulai menyemarakkan rimbunan hutan bambu di Desa Glonggong. Sebagai bagian dari  peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, pada tanggal 5 Februari 2012, Klab Cekatan bekerjasama dengan Jejaring Komunitas Ciliwung dan warga Glonggong mengadakan Dongeng di Ciliwung, Bojonggede.

Dongeng yang berkisah tentang pengalaman Otong, seorang anak tepi Ciliwung yang tinggal di bagian hulu dan Iting yang tinggal di bagian. Otong kerap memanfaatkan sungai sebagai tempat membuang sampah. Sampai suatu saat, ketika Otong menginap di rumah Iting, terjadi hujan lebat dan melihat Ciliwung yang meluap karena banyaknya sampah di sungai. Pengalaman itu sangat berkesan bagi Otong, sehingga dia bertekad untuk berhenti membuang sampah di sungai. Serta mengajak setiap anak peserta dongeng untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian Ciliwung. Demikian alur dongeng yang disampaikan oleh Resha Rashtrapatiji, seorang pendongeng dari Klab Cekatan. 

Mendongeng dengan menggunakan tema lingkungan merupakan salah satu cara yang dipakai untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan pada anak-anak. Konsep dongeng sambil berwisata di luar ruang, di tepi Ciliwung merupakan cara yang unik untuk mengajak anak-anak mencintai sungai. 

“Dongeng di Ciliwung merupakan komitmen Klab Cekatan untuk mengenalkan dongeng lingkungan. Program yang kami sebut Satu Bumi Kita kali ini akan bercerita tentang pentingnya menjaga sungai” terang Resha ketika mengenalkan tujuan diadakannya kegiatan tersebut.  

Usai dongeng, anak-anak diajak untuk
mengumpulkan sampah plastik yang ada di sekitarnya

Dongeng yang dihadiri sekitar 70 orang anak-anak dan 30 orang dewasa dari Bojonggede, Tangerang, Bekasi Bogor dan Jakarta inipun terasa sangat menghibur, pasalnya tim Klab Cekatan menggunakan efek suara dan peralatan musik yang mendukung suasana dongeng. “Cara membawakan dongeng kak Resha menarik, sampai-sampai saya yang orang dewasa saja tertawa mengikuti alur dongengnya” ujar Dinari. “Ketika saya bilang mau ke Ciliwung, teman saya kira ada kegiatan bersih sampah lho. Padahal saya datang karena penasaran dengan acara dongeng di tepi Ciliwung yang terkenal kumuh dan kotornya. Ternyata apa yang saya duga salah. Ciliwung Bojonggede masih asri banget dan harus kita jaga supaya tidak rusak” tambah Dinari menegaskan pesan yang telah disampaikan Resha dalam sesi dongeng sebelumnya. 

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen komunitas dan lembaga yang ingin menjaga kelestarian Ciliwung. Keterlibatan berbagai macam organisasi seperti Teens Go Green, Komunitas Ciliwung Bojonggede, Komunitas Ciliwung Condet, Telapak, Transformasi Hijau, Green Camp Halimun, Relawan Slank, Walicik, Jakarta Birdwatcher Society, Both ENDS, Komunitas Pendongeng merupakan langkah awal yang baik untuk mewujudkan pelestarian sungai dengan melibatkan peran aktif masyarakat.

“Sekarang sudah saatnya setiap lembaga, komunitas ataupun perorangan yang berbicara tentang Ciliwung keroyokan dalam hal positif. Kita harus bekerja bersama mengangkat potensi Ciliwung, serta mengupayakan usaha perbaikannya” ujar Resha kepada perwakilan lembaga dan komunitas yang berpartisipasi dalam Dongeng di Ciliwung. (Hendra Aquan – Transformasi Hijau)

Join the Conversation

4 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *