Nimbrung di Ciliwung: Menggali Potensi Wisata Tepi Sungai

Ciliwung sebagai sungai lintas propinsi yang mengalir di Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta memiliki sisi lain yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Ciliwung banyak dikenal sebagai sungai yang kotor dan kumuh karena padatnya pemukiman penduduk di bantarannya, serta sering dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah. Selain fakta kerusakan yang dengan mudah ditemui, ternyata Ciliwung masih menyimpan potensi alam yang masih terjaga dengan baik, mulai dari keanekaragaman satwanya dan tumbuhannya.

Salah satu segmen Ciliwung yang masih terawat kondisi lingkungannya berada di Condet Balekambang. Kawasan ini ditetapkan oleh pemerintah DKI Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya yang dimanfaatkan untuk tempat perlindungan salak condet. Salak condet merupakan buah asli Jakarta dan digunakan sebagai lambang kota Jakarta.

Alih fungsi lahan di bantaran Ciliwung sebagai tempat pembuangan sampah ilegal dan perumahan telah membuat lahan budidaya salak condet semakin berkurang dan hanya tersisa di kawasan Balekambang Condet saja. Potensi lingkungan ini layak untuk dipertahankan dan dijaga kelestariannya, karena selain penting bagi salak condet, beberapa satwa yang identik dengan bantaran sungai seperti burung air, monyet dan biawak masih dapat ditemui dengan mudah di kawasan ini.

Upaya penyelamatan ini tentu membutuhkan dukungan dan kepedulian dari semua pihak. Oleh karena itu dalam rangka peringatan Hari Pohon sedunia, 21 November 2011, jejaring komunitas Jakarta berinisiatif untuk melakukan kegiatan bersama. Kegiatan yang dinamakan Nimbrung di Ciliwung merupakan ajang berkumpul komunitas yang mengerjakan berbagai isu mulai dari lingkungan, pendidikan hingga seni. Tidak hanya komunitas, kegiatan yang disiapkan panitia gabungan antar komunitas ini juga ingin mengajak warga Jakarta untuk ikut terlibat di dalamnya.

Nimbrung di Ciliwung dikemas dengan konsep wisata pendidikan. Materi pendidikan ramah lingkungan akan diberikan secara yang atraktif melalui dongeng dan diikuti dengan penerapannya seperti memilah sampah dan menanam salak condet. Selain mendapatkan informasi tentang gaya hidup ramah lingkungan, peserta juga dapat mencoba beberapa paket wisata yang ke depan akan dikembangkan di Ciliwung Condet, seperti jelajah kampung, jelajah Ciliwung dengan kano, menanam salak condet dan mencicipi aneka masakan tradisional khas Betawi.

Kini sudah saatnya usaha penyelamatan lingkungan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Semakin beragamnya cara sosialisasi yang digunakan, tentu bisa menyasar kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Kepedulian warga akan kelestarian lingkungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal warga Jakarta untuk menghormati dan melestarikan Ciliwung serta potensi yang dimilikinya. (Hendra Aquan)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *