Water Warrior: Kualitas Air Kali Pesanggrahan Kotor

“Jadi kesimpulannya adalah kualitas air di kali Pesanggrahan itu kotor…” demikian hasil pemaparan Water Warrior dari hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan di hutan kota Srengseng.


Minggu, 5 Juni 2011, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Transformasi Hijau bersama sekitar 30 orang dari HSBC, Green Radio, serta sejumlah pelajar SMP dan SMA Jakarta yang tergabung dalam Water Warrior melakukan pengukuran kualitas air di kali Pesanggrahan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air kali Pesanggrahan. Pengukuran yang menggunakan metode kimia, fisika dan biologi ini dilakukan di hutan kota Srengseng.

Pengukuran kualitas air secara biologi menggunakan bioindikator, yaitu pengamatan jenis hewan-hewan tidak bertulang belakang yang berukuran besar. “Hewan bertulang belakang seperti ikan tidak dijadikan sebagai bioindikator karena kemudahan mereka dalam berpindah tempat jika terjadi perubahan lingkungan, berbeda dengan hewan tidak bertulang belakang yang memiliki pergerakan yang sangat terbatas,” jelas Hendra dari Transformasi Hijau yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Dari pencarian bioindikator yang dipandu oleh Raras ditemukan 2 indikator yaitu siput berpintu dan cacing bersegmen. 

Pengukuran kualitas air kali Pesanggrahan secara kimia     

Untuk metode kimia fisika yang dilakukan adalah mengoptimalkan panca indra dengan alat bantu yang sudah disediakan untuk melihat tingkat kekeruhan, laju air, kadar pH (tingkat keasaman) dan DO (Dissolved Oxygen) atau kadar oksigen terlarut.  Dipandu oleh Anjar dan Haris, peserta mendapatkan nilai pH sebesar 6 dan oksigen terlarut sebanyak 3, 2 ppm yang jauh dari nilai minimal yang disyaratkan, yaitu 6 ppm.

Setelah melakukan pengamatan kualitas air selama satu jam, kedua tim mempresentasikan hasil pengamatan mereka di hadapan peserta yang lain, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari Hendra mengenai makna-makna angka yang dihasilkan serta hubungan antar kedua metode pengamatan tersebut. “Keberadaan makhluk hidup di suatu badan air tergantung pada kondisi fisik kimia air tersebut,” urai Hendra. (Edy Sutrisno – Trashi)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *