Climate Change: Our Mindset Leads Our Behaviour

“Ice asks no questions, presents no arguments, reads no newspapers, listens to no debates. It is not burdened by ideology, and carries no political baggage as it crosses the threshold from solid to liquid. It just melts.”
Climate change atau perubahan iklim merupakan isu besar yang sedang menghantui kehidupan manusia di muka bumi. Meskipun mengancam kehidupan kita (manusia) sendiri, lebih banyak orang yang menganggap remeh dan skeptis terhadap penanggulangannya daripada yang peduli dan beraksi. Quote di atas dari Dr. Henry Pollack, seorang Profesor Geofisika dari University of Michigan, merupakan jawaban yang pas bagi orang-orang tersebut.
Pada dasarnya, perubahan iklim dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia. Namun jika diakumulasi, aktivitas manusialah yang berperan lebih besar. Dunia mengalami pemanasan global sejak lahirnya era industri pada abad ke -18 di mana penggunaan bahan bakar fosil menjadi tidak terkendali. Adanya penawaran dari produsen, disambut permintaan konsumen serta investor, terjadi terus-menerus dan semakin berkembang tanpa memperhitungkan dampak terhadap alam.

Bila dianalogikan, iklim seperti halnya teman bagi manusia. Jika kita berkelakuan baik diapun akan baik kepada kita; juga sebaliknya. Sayang, masih banyak di antara kita yang menganggap segala hal di muka bumi ini ada untuk kita manfaatkan sebesar-besarnya. Paradigma itulah yang harus kita ubah. Bagaimana dengan “manusia membutuhkan alam, begitupun alam terhadap manusia”? Lebih baik dan netral, bukan?

Kita sebagai manusia membutuhkan alam; Bumi, sebagai tempat tinggal. Karena tidak ada lagi tempat untuk kita bila Bumi ini benar-benar tidak dapat ditinggali. Tetangga kita, Venus, jauh lebih panas daripada Bumi (+855 derajat Fahrenheit). Sedangkan Merkurius, tidak memiliki atmosfer sama sekali. Bagaimana nasib generasi kita selanjutnya-atau bahkan nasib kita sendiri-bila Bumi pun semakin panas?

Untuk itu sebagai orang yang tidak egois, seharusnya kita bisa bertingkah laku lebih bijaksana dalam menyikapi climate change. Hal utama adalah mengubah pola pikir. Bila di kepala kita sudah tertanam bibit-bibit sadar dan care terhadap lingkungan, tinggal kita melakukan adaptasi dan mitigasi dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang dari berbagai kalangan bisa turut andil kok. Tidak hanya para intelektual, pembuat regulasi (pemerintah) dan orang-orang ‘penting’ saja. Karena seyogyanya, pemicu dan dampak perubahan iklim berasal dan dirasakan semua orang. Contoh: ibu rumah tangga. Harga sembako dan kebutuhan pangan tidak ada pasokan, harga melambung tinggi, dan lainnya. Perubahan iklim turut berperan dalam kasus ini. Cuaca yang berubah secara ekstrem, tidak bisa diprediksi dan tidak sesuai musim membuat petani kehilangan arah dalam kegiatan bertani mereka. Hasilnya? Gagal panen.

Maka diperlukan penanggulangan dan untuk bagian sederhananya, terapkan saja easy green living di rumah dan kehidupan sehari-hari. Menyisihkan lahan untuk menanam tumbuhan, membuat biopori, menghemat energi di rumah dan banyak lagi. Asal jangan berkoar-koar “go green” tapi setiap hari rambut selalu dipakaikan hairspray. Sama juga bohong.

Menjadi kreatiflah karena itu yang kita perlukan untuk memerangi masalah perubahan iklim ini. Pengaruhilah orang-orang terdekat dan semua yang Anda kenal untuk merubah pola pikir mereka. Setiap dari kita punya potensi untuk berubah dan membawa perubahan, loh. Jangan anggap remeh diri sendiri.

Terakhir, selalu ingat: hukum tabur-tuai itu eksis, kawan! (Claudia Von Nasution)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *