Awalnya adalah Sebungkus Permen, Tapi…

Sungai yang mengalir di Jakarta merupakan tempat sampah kedua selain Bantar Gebang. Lihatlah ke 13  sungai yang mengaliri Jakarta pasti dijejali oleh sampah warganya siang dan malam. Jenis sampahnya pun sangat beragam, mulai dari limbah rumah tangga sampai limbah industri. Semua bercampur menjadi satu. Saking banyaknya, jumlah sampah yang masuk diperkirakan mencapai 27.000 meter kubik atau setara dengan volume sebuah candi Borobudur dalam waktu 2 hari.

Sampah yang selama ini kita lihat ringan, seperti sebungkus permen, sekantong tas plastik, sebotol air kemasan, namun jika semua warga Jakarta membuang jenis yang sama, maka bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang akan menumpuk. Sampah tersebut kemudian mengendap di Teluk Jakarta, menyebabkan pendangkalan serta penurunan kualitas air di perairannya. Kondisi ini memaksa nelayan Jakarta untuk mencari ikan di wilayah yang lebih bersih dari pencemaran. Tidak hanya di wilayah terluar Jakarta bahkan sampai perairan Sumatra karena kondisinya yang relatif bersih dibandingkan dengan perairan Jakarta.

Untuk membuktikan sejauh mana sampah penduduk kota telah mencemari Teluk Jakarta, silahkan berwisata ke Kepulauan Seribu. Di pantai-pantai yang disinggahi pasti akan terlihat secuil benda yang kerap kita gunakan di rumah dan seharusnya tidak berada di pesisir pantai yang bersih.

Sebaran sampah yang terbawa oleh arus laut dan terdampar di Kepulauan Seribu merupakan bukti bahwa sampah tidak akan lenyap dalam waktu singkat. Banyaknya jenis sampah plastik semakin memperburuk kondisi ini. Tidak hanya keindahan pantai yang terganggu, tapi juga kehidupan hewan liar yang tergantung pada laut semakin terancam.

Keberadaan sampah plastik bisa menjebak ikan atau burung dan bisa berakibat kematian. Sampah kini sudah menjadi teroris bagi lingkungan. Rantai makanan ekosistem laut akan terganggu, nelayan akan susah mencari nafkah, keluarga nelayan dan penjual ikan tidak mampu lagi membiayai hidup. Sebuah lingkaran sebab akibat yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sungguh mengerikan…

Dari beberapa penuturan orang tua yang tinggal di muara sungai Angke mengungkaplan bahwa kondisi sungai tersebut pada tahun 1970 – 1980an sangat baik. Pak Musa (70 tahun )seorang sesepuh Kapuk Muara menceritakan bahwa warga  bisa mencari ikan dengan mudah, air bisa langsung diminum, dasar sungai terlihat dan air terasa segar. Namun kondisi saat ini sangat memperihatinkan. Sungai yang berwarna hitam dan berbau, tumpukan sampah yang mengalir, sungai yang dangkal merupakan pemandangan yang kerap dijumpai di tepian sungai Angke.

Ibu Ida (54 tahun) seorang anggota Komunitas Seven Moms bercerita bahwa warga Kapuk Muara kini menyadari bahwa membuang sampah ke sungai akan membawa dampak buruk bagi lingkungan. Kualitas air sungai yang buruk akan mempengaruhi kualitas air tanah yang dimiliki warga.Dari beberapa lokasi sumur, Nampak airnya berbau dan berwarna hitam pekat. Buruknya kondisi air tanah ini, membuat warga Kapuk Muara kini hanya mengandalkan air PDAM untuk mandi serta konsumsi.

Kualitas air sungai dan air tanah yang buruk di Kapuk Muara ini sering dikeluhkan warga yang tinggal di tepian Kali Angke. Agar terlepas dari kondisi lingkungan yang tidak sehat ini, mereka bertekad untuk memulai hidup ramah lingkungan dengan mengolah sampahnya dan melakukan kampanye “banjir tanpa sampah”.  Berangkat dari komitmen tersebut, Ibu Ida besera teman-temannya yang tergabung dalam Seven Moms mengkampanyekan gaya hidup ramah sampah. Untuk membuat warga tertarik pada ide ini, mereka menggunakan slogan “Sampah adalah harta yang tertunda”.  Tergerak oleh himbauan ini, kini beberapa warga mulai mengubah perilakunya dalam mengelola sampah.

Pengalaman di atas merupakan tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh warga tepian Kali Angke untuk menyelamatkan lingkungan dan manusia. Sebuah tindakan yang sederhana dengan tidak membuang sampah ke sungai ataupun membakarnya. Sampahyang dikumpulkan kemudian diolah secara layak. Beberapa bisa menjadi wujud barang yang menarik dan bisa memperpanjang usia pakainya sebelumnya akhirnya akan menjadi sampah.

Di balik semua ini, yang paling mendasar adalah mengubah pola pikir dan kebiasaan kita dalam mengelola sampah. Kepedulian sekecil apapun yang diikuti dengan sebuah tindakan akan memberikan dampak yang luar biasa dibandingkan ide yang sempurna tapi tidak pernah dilakukan. Menyambut Hari Air 2011 ini, apa komitmenmu untuk lingkungan kita? (Ahmad Fadilah – Ichay)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *